KARYA SASTRA DENGAN PENDEKATAN MIMETIK DAN PRAGMATIK
"Nyeput" Tradisi Turun-temurum Masyarakat Sasak.
"Nyeput" Tradisi Turun-temurum Masyarakat Sasak.
Pada kesempatan kali ini saya mencoba membahas kembali kebudayaan masyarakat sasak namun berbeda bentuknya tapi dengan tujuan yang sama yaitu terkait mengkaji Naskah Kuno tentang tradisi Nyeput. Setiap daerah di Lombok mempunyai tradisi ini, hanya saja bagi mereka yang masih mempercayainya. Tepatnya di Desa Bangket Pacak yang berbatasan dengan desa Maron, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Saya bersama ke 7 rekan saya mendatangi seorang narasumber yaitu Bapak Mujahidin Nafis, H. Najamudin dan Mustafa Parna yang tidak lain bapaknya Pak Mujahidin Nafis. Beliau (Pak Mujahidin Nafis) memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat di desa ini karena selain sebagai tokoh masyarakat juga seorang pengajar di salah satu sekolah di daerah tersebut, juga seorang pengrajin keris.
Nyeput ini datang bersamaan dengan Naskah Kuno. Kata nyeput berasal dari bahasa sasak yaitu “seput” yang berarti menjemput atau bergerak cepat. Artinya dengan nyeput ini seseorang dapat dengan cepat mengetahui apa yang menjadi rencananya di masa depan. Nyeput biasanya oleh masyarakat sekitar itu dilakukan pada acara resepsi pernikahan. Para calon mempelai ini bertujuan ingin mengetahui masa depan kehidupannya, hal ini juga pernah dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencalonkan diri dalam parlemen kemudian melakukan nyeput, untuk mengetahui apakah ia menang atau tidak dalam persaingan tersebut. Seperti halnya acara atau tradisi yang lain, nyeput juga mempunyai persyaratan yaitu biasanya dengan menggunaka diantaran daun sirih dengan buah pinang yang akan dikunyah kemudian hasilnya itu seperti yang kita ketahui bahwa akan menhasilkan warna merah, kemudian dengan menggunakan jempol kemudian diusap diatas kening atau antara dua alis sebagai makna sudah ditandai. Selain itu juga harus membawa sesajen yang berisikan telur satu biji, uang, beras dan lain sebagainya yang diletakkan dalam sebuah anyaman yang berukuran kecil, sesajen ini akan diserahkan pada para pembaca yang melakukan tembang (pemaos), dan penerjemah naskah (pujangga) tersebut.
Gambar: Persyaratan Nyeput dan Takepan Labang Kare
Ketika kamu mebutuhkan aku maka nyeput juga membutuhkan naskah kuno. Naskah yang digunakan bukan sembarang naskah melainkan membutuhkan naskah khusus seperti takepan Labang Kare dan Yusuf karena dinilai isi takepan tersebut lebih sesuai dan memiliki ciri yang sesuai juga dengan kehidupan masyarakat. Pada proses nyeput kali ini, saya melihat bahwa hal pertama dimulai dengan membaca bismillah dan shalawat kepada Nabi saw. (3x), dengan tangan kiri yang memegang naskahnya/takepannya sedangkan tangan kanan digunakan untuk mengambil satu lembar takepan. Sebelumnya juga ditekankan untuk meluruskan niat hanya kepada yang MahaKuasa, karena Dialah yang Maha mengetahui kehidupan kita yang sebenarnya. Setelah pemberian lembaran takepan tersebut di berikan kepada pembaca dan pemaos membacakannya hingga kami bertujuh mendapat giliran untuk mengikuti proses Nyeput tersebut. adapun tembang yang saya dapa pada saat itu yaitu Tembang Sinom (Tembang Nasehat) dengan kisah Labang Kare. Pemaos mengaitkan apa isi takepan dan mengartikannya kemudian mengubungkan maknanya dengan impian atau tujuan sang pengambil takepan berdasarkan yang diniatkan. Adapun isi takepan yang disampaikan pada saat itu berisi intinya “ Sang Raja mendapat kotak emas dan Sang Putri yang didapatkan oleh Labang Kare” maksudnya kalau dikaitkan dengan diri Si Pengambil lembaran takepan tersebut, narasumber mengatakan bahwa dia ini seorang yang memilik jiwa tekun dan banyak disayangi sama orang lain, karena ada kata kotak emas yang ada dalam lembaran takepan tersebut”. Pak Mustafa Parma menegaskan bahwa terkait hal ini dan mengatakan “benar atau tidaknya hasil nyeput ini bergntung pada kalian. Namun, ada sebagian besar yang percaya dengan hasil nyeput ini karena memang banyak yang sesuai dengan hasil ramalan tersebut”. (wallahu a’lam bissawab).
Gambar: Pak Mujahidin Nafis dan H. Najamudin (pakai sarung hijau)
Jika kita kaitkan hasil nyeput ini dengan menggunakan pendekatan Mimetik merupakan pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya satra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dan realitas (Abrams 1981: 89). Artinya menghubungkan karya satra dengan realitas, dalam karya satra atau hasil Nyeput tersebut ada kaitannya denga realitas atau kenyatan yang kemudian dikuatkan juga dengan banyak yang mempercayai adat/tradisi tersebut. Dalam nyeput ini juga dapat digunakan pendekatan Pragmatik. Pendekatan pragmati merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sara untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca dapat berupa tujuan politik, moral, pendidikan, agama dan tujuan-tujuan yang lain. artinya sang pembaca mendapat hikmah dari karya satra tersebut. Berdasarkan hasil nyeput yang didapat di atas yaitu untuk tetap teguh dalam menghadapi masalah serta jangan lupa untuk melakukan dengan niat hanya karena-Nya, karena dengan itu kamu akan mendapatkan apa yang diimpikan.
Adapun contoh kisah Labang Kare yang saya dapat dari narasumber, kurang lebih saya cantumkan dalalm bentuk di bawah ini.
Kisah Labang Kare
Seseorang Raja yang bermimpi seoarang wanita yang di kurung/di bawa oleh Raksasa di sebuah Gua dalam hutan belantara. Ketika Raja mengetahui mimpinya, Raja meberikan perintah kepada patihnya untuk membebaskan permaisuru tersebut, namun Patih tidak menyanggupinya. Namun Raja tetap bersihkekeh agar tetap ditemukannya Sang Putri, siapapun itu, dia harus membebaskan permaisuri yang telah terkurung beberepa tahun. Sang Patih lalu pergi dan berusaha untuk mencarinya dalam hutan. Perjalanan yang panjang membuat lelah Sang Patih. Namun Patih terus berusaha untuk menemukan Gua tersebut. Di tengah perjalanan Sang Patih menemukan seorang pemuda yang bernama Labang Kare yang sedang menggambar di tanah. Sang Patih menanyakan gua kepada Labang Kare tentang Gua tersebut, kemudian Labang Kare mengetahui dan memberitahu bahwa letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Oleh karena demikian, Labang Kare di bawa ke Istana untuk mengahadap Sang Raja dan memberitahukan kepada Sang Raja bahwa kondisi Gua tersebut memang ada penjaganya dan terditi dari 7 pintu yang setiap pintunya mempunyai penjaga yag berbeda bentukya seperti pintu pertama di jaga oleh hewan yang rupanya buruk. Begitupun selanjutnya dengan hewan yang berbeda. Mengetahui hal tersebut, Sang Patih memberikan titah kepadanya untuk membebaskan dan membawa Sang Putri itu kembali ke Raja dalam keadaan yang baik-baik. Labang Kare menerima titah Sang Raja. Oleh karena demikian Sang Raja memberikan pakaian ala patih di Istana.
Setelah Labang Kare menerima titah dari Sang Raja dengan penampilan yang yang berbeda, ia pulang ke rumah untuk memberitahu Sang iIbu yaitu Rangde Pingsangne. Ibunya kaget melihat penampilan anaknya yang berbeda sangat drastis dan mengira bahwa pakaian tersebut diperoleh dengan maling atau jalan yang salah. Oleh karena demikian, Labang Kare menjelaskan kebada Sang Ibu dan meminta restu darinya kemudian Sang Ibu menyetujuinya.
Ketika Labang Kare mulai mencari Sang Putri dan berhasil mengalahkan Raksasa tersebut, kemudian Sang Putri itu juga berhasil di bawa pulang dalam keadaan selamat. Namun ketika Sang Putri di bawa di hadapan Sang Raja dan orang di Istana merasa terpukau melihat kecantikannya. Kemudian Raja menceritakan mimpi dan rencana penyelamatannya. Raja mengungkapkan perasaannya dan mengajaknya untuk menjadi permaisurinya. Namun di sisi lain Labang Kare pada saat itu sudah pergi dan menerima hadiah dari Raja karena keberhasilannya membawa cupu emas kepada Sang Raja. Sang Putri menolak untuk menjadi permaisuri karena ia hanya akan mau menikah dengan orang yang berhasil membebaskannya, yaitu Si Labang Kare. Dan ia mengejar Labang Kare sampai menikah keduanya. (sekian).
Gambar: Selesai Proses Nyeput dan Persiapan untuk pulang.
Sekian artikel yang dapat saya bagikan pada pembaca, mohom maaf apabila tidak memuaskan dan kesalahan datang dari saya pribadi. Dan saya membutuhkan kritikan yang membangun. Semoga tidak bosa membacanya ya…
Wassalamualaikum,,,
Gambar: Pak Mujahidin Nafis dan H. Najamudin (pakai sarung hijau)
Jika kita kaitkan hasil nyeput ini dengan menggunakan pendekatan Mimetik merupakan pendekatan kajian sastra yang menitik beratkan kajiannya terhadap hubungan karya satra dengan kenyataan di luar karya sastra. Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai imitasi dan realitas (Abrams 1981: 89). Artinya menghubungkan karya satra dengan realitas, dalam karya satra atau hasil Nyeput tersebut ada kaitannya denga realitas atau kenyatan yang kemudian dikuatkan juga dengan banyak yang mempercayai adat/tradisi tersebut. Dalam nyeput ini juga dapat digunakan pendekatan Pragmatik. Pendekatan pragmati merupakan pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sara untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca dapat berupa tujuan politik, moral, pendidikan, agama dan tujuan-tujuan yang lain. artinya sang pembaca mendapat hikmah dari karya satra tersebut. Berdasarkan hasil nyeput yang didapat di atas yaitu untuk tetap teguh dalam menghadapi masalah serta jangan lupa untuk melakukan dengan niat hanya karena-Nya, karena dengan itu kamu akan mendapatkan apa yang diimpikan.
Adapun contoh kisah Labang Kare yang saya dapat dari narasumber, kurang lebih saya cantumkan dalalm bentuk di bawah ini.
Kisah Labang Kare
Seseorang Raja yang bermimpi seoarang wanita yang di kurung/di bawa oleh Raksasa di sebuah Gua dalam hutan belantara. Ketika Raja mengetahui mimpinya, Raja meberikan perintah kepada patihnya untuk membebaskan permaisuru tersebut, namun Patih tidak menyanggupinya. Namun Raja tetap bersihkekeh agar tetap ditemukannya Sang Putri, siapapun itu, dia harus membebaskan permaisuri yang telah terkurung beberepa tahun. Sang Patih lalu pergi dan berusaha untuk mencarinya dalam hutan. Perjalanan yang panjang membuat lelah Sang Patih. Namun Patih terus berusaha untuk menemukan Gua tersebut. Di tengah perjalanan Sang Patih menemukan seorang pemuda yang bernama Labang Kare yang sedang menggambar di tanah. Sang Patih menanyakan gua kepada Labang Kare tentang Gua tersebut, kemudian Labang Kare mengetahui dan memberitahu bahwa letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Oleh karena demikian, Labang Kare di bawa ke Istana untuk mengahadap Sang Raja dan memberitahukan kepada Sang Raja bahwa kondisi Gua tersebut memang ada penjaganya dan terditi dari 7 pintu yang setiap pintunya mempunyai penjaga yag berbeda bentukya seperti pintu pertama di jaga oleh hewan yang rupanya buruk. Begitupun selanjutnya dengan hewan yang berbeda. Mengetahui hal tersebut, Sang Patih memberikan titah kepadanya untuk membebaskan dan membawa Sang Putri itu kembali ke Raja dalam keadaan yang baik-baik. Labang Kare menerima titah Sang Raja. Oleh karena demikian Sang Raja memberikan pakaian ala patih di Istana.
Setelah Labang Kare menerima titah dari Sang Raja dengan penampilan yang yang berbeda, ia pulang ke rumah untuk memberitahu Sang iIbu yaitu Rangde Pingsangne. Ibunya kaget melihat penampilan anaknya yang berbeda sangat drastis dan mengira bahwa pakaian tersebut diperoleh dengan maling atau jalan yang salah. Oleh karena demikian, Labang Kare menjelaskan kebada Sang Ibu dan meminta restu darinya kemudian Sang Ibu menyetujuinya.
Ketika Labang Kare mulai mencari Sang Putri dan berhasil mengalahkan Raksasa tersebut, kemudian Sang Putri itu juga berhasil di bawa pulang dalam keadaan selamat. Namun ketika Sang Putri di bawa di hadapan Sang Raja dan orang di Istana merasa terpukau melihat kecantikannya. Kemudian Raja menceritakan mimpi dan rencana penyelamatannya. Raja mengungkapkan perasaannya dan mengajaknya untuk menjadi permaisurinya. Namun di sisi lain Labang Kare pada saat itu sudah pergi dan menerima hadiah dari Raja karena keberhasilannya membawa cupu emas kepada Sang Raja. Sang Putri menolak untuk menjadi permaisuri karena ia hanya akan mau menikah dengan orang yang berhasil membebaskannya, yaitu Si Labang Kare. Dan ia mengejar Labang Kare sampai menikah keduanya. (sekian).
Gambar: Selesai Proses Nyeput dan Persiapan untuk pulang.
Sekian artikel yang dapat saya bagikan pada pembaca, mohom maaf apabila tidak memuaskan dan kesalahan datang dari saya pribadi. Dan saya membutuhkan kritikan yang membangun. Semoga tidak bosa membacanya ya…
Wassalamualaikum,,,







